Siapa sih yang tidak ingin menjadi istri yang berbakti dan menyenangkan hati bagi suaminya? Harapan seperti itu pasti melekat erat di benak kaum hawa yang mengabdikan diri dalam kehidupan berkeluarga.

Konon, hal-hal sepele kadang dapat menjadi kunci kebahagiaan yang tak disangka-sangka. Itu yang pernah kita dengar, 'kan? Tapi, nyatanya tidak semua yang terlihat sepele adalah sepele. Saya punya sedikit cerita.

Urusan makan, misalnya, buat kaum ibu bisa berubah menjadi hal yang begitu rumit dan menantang. Tujuan akhirnya memang menyenangkan dan (tentu) mengenyangkan suami tercinta. Tapi, prosesnya… wuih, kadang begitu penuh dinamika, penuh suka dan duka. Tak percaya?

Jujur saja, awalnya saya termasuk istri yang memandang urusan makan sebagai hal yang cukup menyita perhatian. Ribet deh, pokoknya. Untuk keperluan penyediaan makan Kang Emil, saya sengaja menyempatkan diri dulu untuk membuka buku-buku resep, baik resep nusantara maupun mancanegara. Selepas itu, membuat rencana menu per minggu, dan sebagainya, dan sebagainya. Sebagian dari kaum ibu, kalau tidak semuanya, nampaknya pernah mencoba hal demikian, ya ‘kan?

Nah, langkah selanjutnya, tentu saja menghidangkan menu-menu tersebut dengan baik, cantik dan tertata, matching di atas meja. Ada yang bilang, penataan yang baik akan meningkatkan selera makan keluarga. Hmmm, memang sepantasnya jadi catatan kita, ya 'kan? Begitulah, itu juga yang saya lakukan, ingin memberikan yang istimewa. Saya sangat berharap, Kang Emil akan 'menyerbu' hidangan dengan penuh sukacita.

Teh…,” katanya, sewaktu melihat sajian di atas meja sudah tersedia begitu rupa, “mana ceplok endogna?” Kata 'teh' adalah panggilan untuk kakak perempuan dalam bahasa Sunda, panggilan sayang dari Kang Emil untuk saya. Kata pertamanya itu, indah adanya, sungguh. Tapi, pertanyaannya...? Ia menanyakan, yang artinya dalam bahasa Indonesia: “... mana telor ceploknya?”

Nyes. Speechless, deh. Sesudahnya, dulu, saya sempat ‘pundung’ juga. Pundung adalah sebuah kata yang agak sulit dicari padanannya dalam bahasa Indonesia. Mungkin maknanya kira-kira adalah 'kecewa dan mau berhenti'. Coba, bayangin deh, sudah ribet mikir dan nyiapin semuanya, eh… yang dicari Kang Emil malah sebegitu simpelnya.

Tapi, sekarang saya bisa tertawa mengingat itu semua. Kang Emil memang simpel kesukaannya: telor ceplok dan tahu goreng. Boleh dikatakan, ada slogan “Apapun masakannya, tak lengkap tanpa telor mata sapi dan tahu goreng!” untuknya. Tapi, kabar baiknya, mudah ‘kaaan? Haha. Saya malah bersyukur sekali, punya suami yang tidak ribet dalam urusan makanan.
Comments
1 Comments

1 comments:

Dian said... 5/28/2014 09:00:00 AM

Subhanallooh.. Kang Emil yg bersahaja ternyata kegemarannya ceplok endog n tahu goreng... Amat sgt sederhana..

 
Cerita Atalia © 2013-2017. All Rights Reserved.
Top