Jauh-jauh hari sebelum kesibukan sekarang ini, Kang Emil dan saya sudah menjadi pengguna aktif beberapa jejaring sosial di dunia maya, seperti Facebook, Twitter, dan Instagram. Kalau ada yang tanya kenapa, jawabannya -di antaranya- adalah karena kemudahan dan efisiensinya dalam menjaga komunikasi dengan dunia luar.

Kami sangat terbantu untuk dapat tetap menjaga interaksi dengan para sahabat dan warga melalui beberapa saluran yang tersedia. Kini, bahkan tak jarang muncul kritik, tanggapan, laporan maupun apresiasi warga atas berbagai gagasan maupun kerja nyata untuk Bandung tercinta. Tentu, komunikasi ini lebih sederhana bila dibandingkan melalui jalur protokoler yang resmi.

Nah, percaya atau tidak, ternyata akun Atalia tak hanya satu yang tersedia. Semua akun saya di media sosial di atas memiliki akun palsunya. Misalnya, di Instagram. Ada akun Atalia yang cukup aktif dan punya follower hingga puluhan ribu, dan ternyata... itu bukan punya saya! Ya, ada seseorang di luar sana yang membuatnya dan rajin merawatnya.

Ada akun Atalia, tapi bukan Atalia. Untuk apa? Itulah, saya agak khawatir juga, meski saya selalu merasa bahwa saya bukanlah siapa-siapa. Apalagi saya, sebagai pemilik nama, wajah dan kegiatan yang sebenarnya, malah diblokir oleh akun palsu tersebut. Teman-teman yang melaporkan dan protes di akun palsu tersebut juga diblokir. Saat ini bahkan akun palsu tersebut dibuat privat (sehingga tidak ada yang bisa berteman, kecuali adminnya menyetujui). Apa maksudnya?

Terakhir, beberapa hari lalu, berdasarkan laporan dari teman-teman, muncul beberapa postingan yang tak sesuai dengan sikap dan kebiasaan saya. Terasa mengganggu juga jika seseorang mengatasnamakan saya memosting gambar atau menulis sesuatu tanpa persetujuan saya dan cenderung merusak nama baik saya. Kejadian ini sudah saya laporkan juga, sebagai penggunaan nama dan wajah saya oleh orang yang tidak bertanggung jawab, kepada pihak admin. Tapi, sayangnya belum juga ada respon.

Saya khawatir jika admin akun-akun 'Atalia yang bukan Atalia' itu suatu saat melewati garis pembatas atau dipakai untuk sesuatu yang negatif diluar kendali saya. Kejadian ini semoga dapat menjadi peringatan pula pada kita semua, semoga para sahabat, teman-teman dan warga bisa lebih berhati-hati dan tidak mudah percaya pada apa yang dimunculkan di media sosial. Tidak hanya terkait media sosial saya, tapi juga milik orang lain dan siapapun juga.

Comments
2 Comments

2 comments:

Annisa Arif Rizqiani said... 2/29/2016 01:27:00 PM

Wah, ibu Wali nge-blog juga toh. Orang cerdas pasti bisa membedakan koq bagaimana tulisan yang asli Atalia dan bukan Atalia. Pasti buat naikin rating aja, ngedompleng nama.. Semoga nggak berakibat buruk buat keluarga..

Wida Zee said... 3/03/2016 09:39:00 AM

Salam ibu wali, saya warga asli tasikmalaya jawa barat juga.
Saya juga merasa khawatir dengan adanya berbagai macam aku sosmed yang palsu mengatas namakan ibu wali, do'a saya semoga baik-baik saja dengan ibu dan keluarga. Cepat atau lambat pasti pengguna akun palsu ibu cepat sadar.

 
Cerita Atalia © 2013-2017. All Rights Reserved.
Top