Saya tuliskan pengalaman ini sembari masih terus merasakan kesan indah yang mendalam. Alhamdulillah, saya mendapat kesempatan menghadiri acara istimewa dari sebuah keluarga yang sangat istimewa pula.

Sepasang muda-mudi itu akhirnya tiba pada saat untuk melangsungkan akad suci di hadapan orang tua, penghulu, saksi-saksi, para kerabat mereka, serta undangan lainnya. Kedua mempelai bersepakat mengikatkan diri dalam pernikahan suci untuk ridha Ilahi.

Momen yang teramat penting bagi sepasang insan berbahagia ini, ternyata juga menyampaikan hikmah yang amat berharga bagi mereka yang menyaksikannya. Jujur, baru kali ini saya melihat secara langsung pernikahan yang begitu istimewa, sungguh lain dari yang lainnya.

Sebabnya adalah karena suasana khidmat sepanjang berlangsungnya acara, nuansa islami nan bersahaja yang dihadirkan di sana dan terutama… karena pembawaan kedua mempelai yang menjadi sepasang bintangnya.


Kedua sejoli terlihat sangat canggung satu sama lainnya. Boleh jadi karena pengaruh suasana acara walimatul urusy-nya itu sendiri yang membuat gugup. Pak Gubernur dan Kang Emil hadir dan bertindak sebagai dua saksi nikahnya, dan KH. Miftah Faridl berkenan sebagai penyampai khutbah nikahnya. Sementara itu sekian banyak undangan menghadiri momen penting tersebut.

Lebih dari semua itu, saya melihat kepolosan dan kegugupan kedua mempelai memang merupakan cerminan akhlak mereka yang selama ini sangat terjaga, terutama dalam hal pergaulan dengan lawan jenis.

Keduanya terlihat gemetar ketika disandingkan sebagai pengantin baru. Tingkah gugup tersebut makin terlihat kala dipersilakan untuk ‘sekedar’ bersalaman. Tampak canggung, meski keduanya baru saja dinyatakan sah menjadi suami-istri.


Keduanya menunjukkan keindahan akhlak pergaulan yang kontras dengan pemandangan umum dunia muda-mudi kekinian, yang biasa kita saksikan sehari-hari. Sungguh, beruntunglah orang tua yang memiliki anak-anak sholeh dan sholehah, yang mampu menjaga diri mereka dengan baik, sebagaimanana ditunjukkan oleh kedua mempelai.

Tak terasa, air mata saya menetes sewaktu menyaksikan prosesi akad pernikahan ini.

Barokallahu laka wabaroka alaika, Teh Ghina dan Kang Zul… semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warrahmah. Aamiin.

Wilujeng, Aa Gym dan Teh Ninih.
Comments
0 Comments

0 comments:

 
Cerita Atalia © 2013-2017. All Rights Reserved.
Top