#siCinta Atalia
#siCinta Atalia
  • Home
  • Kegiatan
  • Opini
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us


Hari ini Provinsi Jawa Barat memperingati Hari Jadi-nya yang ke-75. Tepat sekali jika kita kembali membaca tentang lahirnya provinsi tercinta. Berikut ini adalah tulisan tentang sejarah singkat Provinsi Jawa Barat yang saya kutip dari kajian yang ditulis oleh Tim Pengkaji Hari Jadi Provinsi Jawa Barat yang diketuai oleh Prof. Dr. Nina Herlina Lubis, M.S.

Setelah penjajahan Belanda berakhir pada tanggal 8 Maret 1942, Indonesia pun jatuh ke tangan pemerintah pendudukan Jepang. Kedatangan tentara Jepang ke Indonesia yang pada mulanya disambut dengan baik oleh rakyat karena dianggap sebagai pembebas dari penjajahan Belanda, pada sekitar tahun 1944 mulai menimbulkan kebencian rakyat karena berbagai tindakan yang dilakukannya telah mengakibatkan kesengsaraan. Akibatnya, muncul perlawanan-perlawanan rakyat di berbagai tempat.

Sementara itu, pada tahun 1944 kekalahan-kekalahan sering dialami tentara Jepang dalam Perang Asia Timur Raya yang dikobarkannya sehingga menjadikan situasi di Jepang sendiri mulai memburuk dan moral rakyat Jepang mulai mundur. Selanjutnya pemerintah pendudukan Jepang menjanjikan akan memberikan kemerdekaan dengan harapan bangsa Indonesia membalas janji itu dengan cara mendukung Jepang sebagai ungkapan terima kasihnya.

Ketika Jepang sudah semakin terdesak oleh Sekutu, pada tanggal 7 Agustus 1945 penguasa militer Jepang di Saigon mengumumkan terbentuknya Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) untuk mempersiapkan negara Indonesia yang merdeka. Kemudian pada tanggal 9 Agustus 1945 Ir. Sukarno, Drs. Mohammad Hatta, Dr. Rajiman Wedyodiningrat, Dr. Suharto, Letnan Kolonel Nomura, dan Miyoshi pergi dari Jakarta ke Singapura, kemudian dilanjutkan ke Saigon,Vietnam.

Tanggal 11 Agustus 1945 Marsekal Terauchi, Panglima Tentara Umum Selatan yang menguasai semua tentara Jepang di Asia Tenggara, menerima kedatangan para pemimpin Indonesia dalam sebuah ruangan villa di Dalat pada pukul 11.40 waktu setempat. Dalam pertemuan itu Ir. Sukarno diangkat sebagai ketua dan Drs. Mohammad Hatta sebagai wakil ketua PPKI. Disetujui pula bahwa rapat pertama PPKI akan diselenggarakan tanggal 18 Agustus 1945 dan kemudian kemerdekaan Indonesia akan diumumkan secara resmi.

Sementara itu, sebuah peristiwa yang mengubah sejarah telah terjadi pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945, Hiroshima dan Nagasaki dijatuhi bom atom oleh Amerika Serikat. Pada tanggal 14 Agustus 1945 masyarakat dunia mendengarkan pengumuman Presiden Truman dan Perdana Menteri Attlee bahwa Jepang menyerah tanpa syarat pada Sekutu.

Pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 04.15 para pemuda dari kelompok yang bermaskas di Jalan Prapatan 10 Jakarta dan lain-lainnya membawa Ir. Sukarno dan Drs. Mohammad Hatta ke Rengasdengklok. Peristiwa tersebut merupakan usaha pemuda untuk meyakinkan para pemimpin bangsa Indonesia agar segera mengumumkan kemerdekaan Indonesia tanpa bantuan dari pihak Jepang. Kemudian setelah melalui perundingan dan pembicaraan di Rengasdengklok serta kemudian di Jakarta, maka disusunlah naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia di tempat tinggal Laksamana Maeda, Jalan Imam Bonjol no. 1 Jakarta.

Setelah naskah Proklamasi selesai disusun menjelang subuh tanggal 17 Agustus 1945, pada pagi harinya pukul 10.30 Waktu Jawa Zaman Jepang atau pukul 10.00 Waktu Indonesia Bagian Barat, teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibacakan oleh Ir. Sukarno yang didampingi oleh Drs. Mohammad Hatta di kediaman Ir. Sukarno di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Dengan dinyatakannya Proklamasi Kemerdekaan bangsa Indonesia itu, maka berakhirlah masa pemerintahan pendudukan militer Jepang di Indonesia dan Indonesia memasuki babak baru sebagai negara merdeka.

Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, PPKI mengadakan sidang di bekas gedung Raad van Indie pada tanggal 18 Agustus 1945. Dalam sidang itu, ditetapkan Undang-undang Dasar Republik Indonesia (UUD 1945), selanjutnya dipilih Ir. Sukarno dan Drs. Mohammad Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia, serta membentuk Panitia Kecil yang diketuai oleh Otto Iskandar di Nata yang akan bertugas menyusun rencana mengenai hal-hal yang perlu segera mendapat perhatian pemerintah Republik Indonesia.

Keesokan harinya, 19 Agustus 1945, Pemerintah berhasil menyusun 12 kementerian, antara lain Departemen Dalam Negeri yang dipimpin oleh R.A.A. Wiranatakusumah. Dalam Berita Negara RI 1945, disebutkan pula bahwa pada tanggal 19 Agustus 1945 itu, PPKI berhasil membentuk delapan provinsi yang dikepalai oleh seorang gubernur dan masing-masing provinsi terdiri atas keresidenan-keresidenan yang dikepalai oleh residen. Kedelapan provinsi itu adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera, Borneo, Sulawesi, Maluku, dan Sunda Kecil. Kemudian diangkat para gubernur untuk mengepalai provinsi-provinsi yang dibentuk itu, yaitu Mr. R. Sutarjo Kartohadikusumo sebagai Gubernur Jawa Barat, R.P. Suroso sebagai Gubernur Jawa Tengah, R.M.T.A. Suryo sebagai Gubernur Jawa Timur, Mr. Teuku Moh. Hasan sebagai Gubernur Sumatera, Pangeran Mohhammad Nur sebagai Gubernur Borneo, Dr. G.S.S.J. Ratulangi sebagai Gubernur Sulawesi, Mr. J. Latuharhary sebagai Gubernur Maluku, dan Mr. I. Gusti Ketut Puja sebagai Gubernur Sunda Kecil.

Dengan demikian, Provinsi Jawa Barat lahir pada tanggal 19 Agustus 1945 dengan Mr. R. Soetardjo Kartohadikoesoemo, yang waktu itu sedang menjadi Syucokan (Residen) Jakarta, sebagai Gubernur Provinsi Jawa Barat yang pertama dan berkedudukan di Jakarta. Kedudukan Gubernur Provinsi Jawa Barat pada bulan September 1945 pindah ke Bandung sehingga Bandung menjadi pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat. Akhirnya, tanggal 19 Agustus 1945 diputuskan oleh DPRD Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebagai Hari Jadi (lahir) Provinsi Jawa Barat dalam bentuk Perda yang ditandatangani pada 31 Desember 2010. Tanggal ini memenuhi persyaratan dilihat dari aspek legalitas, aspek historis, maupun aspek simbolis.

Dilihat dari aspek legalitas: PPKI waktu itu memiliki kedudukan yang sederajat dengan Majelis Permusyawaratan Rakyat (yang waktu itu belum dibentuk) sehingga keputusannya memiliki kekuatan hukum yang sama dengan ketetapan MPR.

Selain itu, dilihat dari aspek historis, istilah Provinsi Jawa Barat dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia, secara faktual, baru muncul dalam Surat Keputusan PPKI tertanggal 19 Agustus 1945.

Selanjutnya dilihat dari aspek simbolis, pembentukan Provinsi Jawa Barat pada tanggal 19 Agustus 1945 memberikan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Jawa Barat karena wilayah administrasi pemerintahannya dibentuk dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jadi, eksistensi Propinsi Jawa Barat dapat dipandang bukan sebagai produk kolonial, melainkan sebagai produk perjuangan dalam rangka merebut dan mempertahankan kedaulatan NKRI. Pengambilan tanggal kelahiran Provinsi Jawa Barat, dari masa sesudah proklamasi, juga menunjukkan bahwa masyarakat Jawa Barat guyub dengan masyarakat dari 30 provinsi lainnya di seluruh Indonesia yang juga memilih hari jadi provinsi mereka sesudah proklamasi.


Gema Sumpah Pemuda dan lantunan lagu Indonesia Raya yang pada tanggal 28 Oktober 1928 digelorakan dalam Kongres Pemuda Indonesia, menggugah semangat para pimpinan perkumpulan kaum perempuan untuk mempersatukan diri dalam satu kesatuan wadah mandiri. Pada saat itu sebagian besar perkumpulan masih merupakan bagian dari organisasi pemuda pejuang pergerakan bangsa.

Selanjutnya, atas prakarsa para perempuan pejuang pergerakan kemerdekaan pada tanggal 22-25 Desember 1928 diselenggarakan Kongres Perempuan Indonesia yang pertama kali di Yogyakarta. Salah satu keputusannya adalah di bentuknya satu organisasi federasi yang mandiri dengan nama Perikatan Perkoempoelan Perempoean Indonesia (PPPI).


Melalui PPPI tersebut terjalin kesatuan semangat juang kaum perempuan untuk secara bersama-sama kaum Laki-laki berjuang meningkatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang merdeka, dan berjuang bersama-sama kaum perempuan untuk meningkatkan harkat dan martabat perempuan Indonesia menjadi perempuan yang maju.

Pada tahun 1929 Perikatan Perkoempoelan Perempuan Indonesia (PPPI) berganti nama menjadi Perikatan Perkoempoelan Istri Indonesia (PPII). Pada tahun 1935 diadakan Kongres Perempuan Indonesia II di Jakarta. Kongres tersebut disamping berhasil membentuk Badan Kongres Perempuan Indonesia, juga menetapkan fungsi utama Perempuan Indonesia sebagai Ibu Bangsa, yang berkewajiban menumbuhkan dan mendidik generasi baru yang lebih menyadari dan lebih tebal rasa kebangsaannya.

Pada tahun 1938 Kongres Perempuan Indonesia III di Bandung menyatakan bahwa tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu. Selanjutnya, dikukuhkan oleh Pemerintah dengan Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-hari Nasional yang Bukan Hari Libur tertanggal 16 Desember 1959, yang menetapkan bahwa Hari Ibu tanggal 22 Desember merupakan hari nasional dan bukan hari libur. Tahun 1946 Badan ini menjadi Kongres Wanita Indonesia disingkat KOWANI, yang sampai saat ini terus berkiprah sesuai aspirasi dan tuntutan zaman. Peristiwa besar yang terjadi pada tanggal 22 Desember tersebut kemudian dijadikan tonggak sejarah bagi Kesatuan Pergerakan Perempuan Indonesia.


Hari Ibu oleh bangsa Indonesia diperingati tidak hanya untuk menghargai jasa-jasa perempuan sebagai seorang ibu, tetapi juga jasa perempuan secara menyeluruh, baik sebagai ibu dan istri maupun sebagai warga negara, warga masyarakat dan sebagai abdi Tuhan Yang Maha Esa, serta sebagai pejuang dalam merebut, menegakan dan mengisi kemerdekaan dengan pembangunan nasional.

Peringatan Hari Ibu dimaksudkan untuk senantiasa mengingatkan seluruh rakyat Indonesia terutama generasi muda, akan makna Hari Ibu sebagai Hari kebangkitan dan persatuan serta kesatuan perjuangan kaum perempuan yang tidak terpisahkan dari kebangkitan perjuangan bangsa.


Untuk itu perlu diwarisi api semangat juang guna senantiasa mempertebal tekad untuk melanjutkan perjuangan nasional menuju terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Semangat perjuangan kaum perempuan Indonesia tersebut sebagaimana tercermin dalam lambang Hari Ibu berupa setangkai bunga melati dengan kuntumnya, yang menggambarkan:
1. kasih sayang kodrati antara ibu dan anak;
2. kekuatan, kesucian antara ibu dan pengorbanan anak;
3. kesadaran wanita untuk menggalang kesatuan dan persatuan, keikhlasan bakti dalam pembangunan bangsa dan negara.

Semboyan pada lambang Hari Ibu "Merdeka Melaksanakan Dharma" mengandung arti bahwa tercapainya persamaan kedudukan, hak, kewajiban dan kesempatan antara kaum perempuan dan kaum laki-laki merupakan kemitrasejajaran yang perlu diwujudkan dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara demi keutuhan, kemajuan dan kedamaian bangsa Indonesia.

Jakarta, 22 Desember 2018

Sumber tulisan: PEDOMAN PENYELENGGARAAN PERINGATAN HARI IBU (PHI) KE-90 TAHUN 2018, KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK REPUBLIK INDONESIA.

Raden Dewi Sartika teh Pahlawan Nasional anu merjoangkeun harkat jeung darajat kaom wanita. Anjeuna dileler salaku pahlawan nasional dumasar kana SK Nomer: 252 taun 1966 nu ditawis ku Presiden Soekarno. Jenengan lengkepna Raden Dewi Sartika. Nanging di lingkungan kulawargana mah ngaran nenehna sok disebut Uwi. Anjeuna teh putra Raden Angga Somanagara sareng Raden Ayu Rajapermas.

Gumelarna Raden Dewi Sartika teh kaping 4 Desember 1884 di Bandung, nalika ramana janten Patih Afdeling di Mangunreja. Lengkah paripolah Raden Dewi Sartika benten sareng barudak istri jaman harita. Raden Dewi Sartika singer, pinter, tur luhur wawanen. Raden Dewi Sartika janten istri nu binangkit, wanoja anu binekas, kalayan rancage makalangan.

Kumargi ramana janten Patih Bandung, Raden Dewi Sartika sareng dulur-dulurna kenging sakla di Eerste Klasse School nyaeta sakola anu sataraf jeung sakola dasar. Sakola ieu teh husus keur bangsa Walanda. Di dieu Raden Dewi Sartika kenging kasempetan kanggo ningkatkeun pangaweruh bari diajar basa Walanda sareng basa Inggris. Unggal acara-acara penting, Patih Somanagara sok nyandak palaputrana. Tina kagiatan-kagiatan kieu, Raden Dewi Sartika kenging seueur pangaweruh sareng pangalaman anu ngalegaan wawasanana.

Raden Dewi Sartika hanjakal teu lila sakolana, anjeunna kedah eureun di kelas 2B lantaran ramana Raden Rangga Somanagara dihukum buang ka Ternate lantaran dianggap nanduk ka pamarentahan Walanda. Raden Dewi Sartika dititipkeun ka uana Raden Arya Surakarta Adiningrat anu katelah Arya Patih Cicalengka

Bakat ngaguruan geus katembong ti bubudak. Kaulinannana sok sasakolaan di tukangeun imahna. Babaturannana arulin diajar maca, nulis, jeung ngitung. Sabakna ku kenteng, geripna ku areng atawa apu. Harita Raden Dewi Sartika nyakseni yen darajat kaom wanita teh sahandapeun kaom lalaki. Kaom wanita jaman harita wuwuh ngeuyeumbeu, bodo, ngan ulu kutek di dapur ngaulaan nu jadi salaki. Kaayaan ieu, ngahudangkeun pamadegan Raden Dewi Sartika pikeun ngamajukeun kaom wanita ngalangkungan pendidikan. Raden Dewi Sartika hoyong ngayakeun sakola anu husus pikeun kaom wanita sangkan harkat darajatna satata jeung kaom pria.

Dina taun 1902, harita Raden Dewi Sartika nincak umur 18 taun, ngalih ka Bandung kempel deui sareng ibuna nu nembe mulih ti Ternate, da ramana pupus di pangbuangan. Dina hiji waktos, Raden Dewi Sartika ngadeuheus ka uana nu janten Bupati Bandung R.A. Martanegara, anjeuna ngadugikeun pamaksadannana hoyong ngadegkeun sakola pikeun kaom wanita. Pamentana ku uana ditedunan, teras tanggal 16 Januari 1904 Raden Dewi Sartika ngadegkeun sakola anu tempatna di Pendopo Kabupaten sarta dingaranan Sakola Istri. Ieu teh minangka sakola anu munggaran nu aya di Indonesia pikeun kaom wanoja. Guruna aya tilu, nyaeta Raden Dewi Sartika, Nyi Poerwa, jeung Nyi Oewit. Beuki lila sakola istri teh beuki maju, muridna beuki nambahan.

Taun 1906, Raden Dewi Sartika nikah sareng Raden Kanduruan Agah Suriawinata. Saparantos nikah, Raden Dewi Sartika kenging bimbingan ti carogena kanggo ngkolakeun jeung ngembagkeun sakola istri,

Kaping 5 November 1910 dibentuk Pakempelan Kautamaan Istri. Maksad diayakeunana pakempelen ieu pikeun ngadukung, ngembangkeun, jeung ngawangun sakola keur kaom wanoja bumiputra anu dipingpin ku Raden Dewi Sartika. Saterasna sakola istri digentos namina janten Sakola Kautamaan Istri. Dina waktos anu singger, Sakola Kautamaan Istri teras majeng dugikeun ka seueur cabangna di Jawa Barat, di antawisna di Sumedang, Cianjur, Sukabumi, Tasikmalaya, Garut sareng Purwakarta.

Taun ajaran 1913 jumlah muridna oge aya 215 urang. Sakola Kautamaan Istri mangrupikeun sakola bumi putra anu kaetang ageung tur kualitasna sae. Malahan taun 1911 Gubernur Jenderal Indeburg ngahaja ngayakeun kunjungan ka Sakola Kautamaan Istri lantaran tos kakoncara kamana-mana. Taun 1916, istri Gubernur Jenderal Hindia Belanda nu ngagentos Tuan Indenburg nya eta Nyonya Limburg van Stirum oge nyumpingan Sakola Kautamaan Istri.

Kaping 25 Juli 1939 R. Agah Kanduruan Surawinata ngantunkeun. Saparantos carogena ngantunkeun, Raden Dewi Sartika tetep tekun ngamajukeun sakola kautamaan istri. Nanging, kaping 11 September 1947 Raden Dewi Sartika dipundut ku Alloh swt. Anjeuna dimakamkeun di Pemakaman Cigagadon, Desa Rahayu, Kecamatan Cineam. Taun 1950, makamna dialihkeun ka Bandung di Komplek Pemakaman Bupati Bandung, Jalan Karang Anyar.

Kanggo masihan kahormatan kana sagala jasana, kaping 17 April 1951 dibentuk Yayasan Raden Dewi Sartika, anu saterasna ngokolakeun sareng ngamajengkeun Sakola Dewi Sartika.

Kitu riwayat singget perjoangan Raden Dewi Sartika dina widang pendidikan. Lantaran jasana, Presiden Republik Indonesia netepkeun Raden Dewi Sartika salaku Pahlawan Kamerdekaan Nasiona anu ditetepkeun ngalangkungan SK No. 252 taun 1966 nu ditawis ku Presiden Soekarno.

Jenengan Raden Dewi Sartika teras seungit ngadalingding, nilai-nilai perjoanganana teras digedurkeun janten sumanget pikeun ngawangun bangsa jeung nagara Indonesia. Amin.

(Sumber: Paguyuban Pasundan, dibacakeun nalika upacara miƩling perjuangan Dewi Sartika, 4 Desember 2015)
Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Tips Disayang Suami Ala Atalia Kamil
  • Panci Multifungsi Panineungan
  • Daftar Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat
  • Gaya Istri Ridwan Kamil Cantik Serba Merah Saat Suami Dilantik Jadi Gubernur
  • Riwayat Singget Perjoangan Raden Dewi Sartika
HIKMAH
ARTIKEL

Copyright © ataliapraratya.com