#siCinta Atalia
#siCinta Atalia
  • Home
  • Kegiatan
  • Opini
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Alhamdulillah, sebagai Ketua TP PKK Jabar, saya berkesempatan meninjau secara langsung pelaksanaan imunisasi polio di Posyandu Mawar 11, Kelurahan Nagri Kaler, Kecamatan Purwakarta, Kabupaten Purwakarta, pada hari Senin (3/4/2023).

Posyandu ini merupakan salah satu dari sekian banyak lokasi pelaksanaan Sub Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio yang digelar serentak di 27 kabupaten/kota se-Jawa Barat pada tanggal 3-15 April 2023.

Bersama saya, turut hadir perwakilan dari Kemenkes RI, UNICEF, dan WHO untuk melihat pelaksanaan kegiatan yang sangat penting ini. Sebagaimana kita ketahui, Kabupaten Purwakarta merupakan lokasi pertama ditemukannya cacat polio, yakni pada seorang anak yang berdomisili di Kecamatan Maniis.

Saya mengapresiasi antusiasme masyarakat yang tinggi di kabupaten Purwakarta dan di kabupaten/kota lainnya di Jabar, dalam mengikuti Pekan Imunisasi Polio. Hal ini terlihat di antaranya dari kehadiran para orang tua dan anaknya di lokasi posyandu sejak pukul tujuh pagi, 2 jam sebelum kegiatan dimulai.

Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Jawa Barat semakin sadar akan bahaya penyakit polio dan pentingnya imunisasi untuk melindungi anak dari bahaya cacat fisik akibat penyakit tersebut. Tingginya kesadaran masyarakat merupakan modal kuat untuk merespon kasus KLB polio.


Sub PIN Polio se-Jabar akan menyasar 3.984.797 anak dengan rentang usia 0-59 bulan, dilakukan di 1.101 puskesmas dan 52.432 posyandu dengan melibatkan 311.992 kader. Metode yang digunakan dalam imunisasi, yaitu oral atau tetes.

Target hampir 4 juta anak yang dicanangkan ini tentu tidak dapat dilakukan sendirian oleh satu pihak saja, melainkan harus dikerjakan secara kolaboratif dengan berbagai pihak. Karena itu, pelaksanaannya melibatkan seluruh kader PKK, karang taruna, dan berbagai pihak lainnya agar dapat menjangkau masyarakat hingga di pedesaan.

Di sisi lain, sampai saat ini masih ada saja yang menolak pelaksanaan imunisasi karena minimnya edukasi atau terbujuk informasi yang tidak benar. Hal ini harus diantisipasi dengan sosialisasi yang baik, penyampaian informasi yang benar dan meluas kepada para orang tua, sebab imunisasi polio bukan hanya untuk menyelamatkan anaknya sendiri, tapi juga mencegah transmisi ke anak-anak lainnya.

Kita patut bersyukur bahwa Provinsi Jawa Barat mampu bergerak cepat dalam merespons ditemukannya kasus KLB Polio di Purwakarta beberapa waktu yang lalu. Saat ditemukan satu kasus, penelusuran kasus lainnya dapat dilakukan dengan cepat untuk melakukan pencegahan penularan. Respon Jabar ini mendapat apresiasi positif dari Kemenkes, WHO, maupun UNICEF.

Awalnya, pada kasus di Purwakarta ini ditemukan KLB satu anak cacat polio, dan ternyata setelah dilakukan surveilans, pada kasus polio di Purwakarta terdeteksi 30 anak yang 7 di antaranya dinyatakan positif polio.


Saya berharap masyarakat segera membawa anaknya ke fasilitas kesehatan terdekat, sebab polio hanya dapat dihindari dengan imunisasi. Metode yang digunakan pun berupa oral tetes yang manis, sehingga anak akan nyaman, tidak takut, dan rasanya pun enak.

Semoga pelaksanaan PIN Polio ini akan melengkapi cakupan imunisasi di Purwakarta dan daerah-daerah lainnya hingga 100% dan mencegah terjadinya KLB di masa depan. Bupati Purwakarta Bu Anne Ratna Mustika mengungkapkan bahwa beliau sempat kaget atas terjadinya kasus polio di wilayahnya, sebab cakupan imunisasi tahunan selalu di atas 80%.

Saat ini, PIN Polio di Purwakarta menyasar 78.077 anak yang tersebar di 17 kecamatan dan 183 desa/kelurahan, dengan melibatkan sebanyak 5.235 orang kader posyandu. Pelaksanaannya didukung penuh dengan meliburkan PAUD di seluruh Purwakarta dan mengharuskan murid-murid untuk mengikuti imunisasi.

Saya mengajak para orang tua di manapun di seluruh Jabar untuk mendukung program pemerintah ini, sebab keberhasilan imunisasi polio ini akan sangat tergantung pada tingkat partisipasi masyarakat.

Yuk, lindungi buah hati kita dengan mengikutsertakan mereka pada PIN Polio. Tahap pertama dilaksanakan pada 3-15 April 2023 dan akan dilanjutkan dengan tahap kedua pada 15-27 Mei 2023.

Semoga masyarakat Jabar tercinta selalu dilimpahi Allah SWT dengan sehat lahir batin. Aamiin ya Rabbal alamiin.


Atalia Praratya
Ketua TP PKK Jabar

Pentingnya pemberian imunisasi difteri adalah sebuah kebutuhan yang tak bisa ditunda-tunda. Saya memiki perhatian khusus mengenai hal ini, dan sangat mendukung kolaborasi para pihak dalam melaksanakannya secara cepat dan tepat.

Respon Dinas Kesehatan Jawa Barat dan Dinas Kesehatan Kabupaten Garut patut mendapat apresiasi setinggi-tingginya, sebab telah bergerak cepat merespons kejadian luar biasa penularan difteri di wilayah Kabupaten Garut.

Alhamdulillah, pada hari Rabu (1/3/2023) yang lalu, sebagai Ketua TP PKK Provinsi Jawa Barat saya berkesempatan menyaksikan sendiri pemberian imunisasi difteri pada anak-anak, yang berlokasi di SDIT Miftahul Huda Garut.

Kepada para ibu yang hadir, saya sampaikan bahwa pemberian imunisasi tersebut merupakan ikhtiar pencegahan penularan difteri. Saya memang selalu berpikir bahwa bagaimanapun kepedulian para ibu tentunya adalah kesehatan dan keselamatan buah hatinya.


Pemerintah cepat hadir untuk menjawab permasalahan munculnya kasus difteri di Garut. Kekompakan para stakeholders adalah kunci keberhasilan dalam meminimalkan penularan, dan kerja sama yang baik ini sudah terbukti saat semua pihak bahu membahu melawan pandemi COVID-19.

Saya bersyukur menyaksikan kekompakan ini. Semua pihak ikut membantu, membentuk kolaborasi terbaik yang bisa diberikan demi kesehatan masyarakat.

Selanjutnya, saya berharap dan mengimbau agar setiap orang tua dapat memberi perhatian yang terbaik dalam memberi asupan makanan, juga menjaga pola tidur yang cukup, untuk buah hati tercinta. Tak lupa, berikan imunisasi sebagai pencegahan penularan difteri. Mari kita saling mengingatkan mengenai betapa pentingnya imunisasi ini.

Sebagai catatan, pada Selasa (28/2/2023), Dinkes Jabar melaksanakan Outbreak Response Immunization (ORI) guna menanggulangi wabah difteri yang baru-baru ini terjadi di Kabupaten Garut.

ORI tersebut baru digelar di Kecamatan Pangatikan, Kabupaten Garut yang sudah positif terjadi wabah difteri, dengan sasaran di Kecamatan Pangatikan lebih dari 11.000 anak yang berusia 0 - 11 bulan, bayi di bawah dua tahun, anak usia sekolah kelas 1, kelas 2, dan kelas 5 sekolah dasar.

Semoga ikhitar kita ini mendapat kemudahan dan pertolongan dari Allah SWT, dan segenap warga Jabar selalu berada dalam kesehatan. Aamiin ya Rabbal alamiin.

Siapa yang khawatir makan telur karena takut jadi jerawatan, bisulan, dan terkena kolesterol? Siapa yang juga khawatir makan ayam karena ngeliat ayamnya gendut, takutnya hasil disuntik hormon?

Sayaaahhh! Ahahaha.

Gustiii ... selama ini ternyata saya pun termasuk yang kemakan hoaks tentang telur, dan mempercayai info-info tersebut benar seperti yang dikatakan itu (biarpun kalau saya mah cuek aja sih, tetep makan juga, hehe).

Masalahnya, bisa kita bayangkan ‘kan, berapa banyak orang yang percaya dengan isu tersebut, lalu enggak mau makan ayam dan telur, dan bahkan anak keturunannya pun enggak diajak untuk suka makan ayam dan telur. Duh … secara turun-temurun generasi bangsa kita bisa jadi kekurangan protein hewani, padahal manfaatnya luar biasa banyak!

Beberapa kota di dunia, termasuk di wilayah Banten, sudah menguji-cobakan intervensi stunting dengan memberi makan telur setiap hari selama 6 bulan. Ternyata, hasil yang didapat menunjukkan tingkat kenaikan gizi yang pesat.

Maka dari itu, teman-teman … yuuk, ah, makan telur dan ayam!

Alhamdulillah, pada hari Sabtu (29/5/2021) saya berkesempatan mengikuti rangkaian kegiatan Tebar 5.000 Ayam dan 50.000 Telur Tingkat Jabar di wilayah Bandung Raya, sebagai bagian dari Edukasi dan Sosialisasi Cegah Stunting di Jawa Barat

Jadilah kami pun bersemangat ber-”broom broom” ria bersama Djarlins ke lokus stunting, salah satunya di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Perjalanan yang sungguh mengesankan, dimulai dari kondisi masih kering sampai berhujan-hujanan ria, sambil menikmati keindahan alam KBB.

Terima kasih Ibu Sonya Fatmala atas sambutan dan dukungan penuhnya. Hatur nuhun atas inisiatif dan kerja sama mantap yang ditunjukkan oleh Pinsar Indonesia, DKPP Jabar, dan PKK se-Bandung Raya.

Ayah Bunda, saat ini Provinsi Jawa Barat telah memiliki posyandu sebanyak 52.432 unit dengan kader posyandu sebanyak 311.992 orang dan baru saja me-launching 657 PPJ (Pendamping Posyandu Juara) yang tersebar di 27 kabupaten/kota.

Kegiatan launching yang dilaksanakan pada hari Selasa (25/05/2021), bertempat di Gedung Kantor Bupati Bandung Barat, ini dirangkaikan dengan Penandatanganan dan Penyerahan Naskah Perjanjian Hibah Daerah, Revitalisasi Posyandu Provinsi Jabar, serta Penyerahan Kontrak Kerja dan Surat Tugas oleh Gubernur Jawa Barat.

Saya ucapkan selamat kepada seluruh koordinator PPJ yang telah terpilih dari 1.600 orang pelamar. Selamat bekerja untuk masyarakat Jawa Barat dengan penuh pengabdian.

Hatur nuhun yang sebesar-besarnya saya sampaikan kepada Bapak Hengky Kurniawan sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Kabupaten Bandung Barat, Ibu Sonya Fatmala, beserta jajaran pemerintahan setempat. Tak lupa, terima kasih saya ucapkan kepada Posyandu Plamboyan Desa Kayuambon, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, yang sudah menginspirasi dan menjadi tuan rumah yang luar biasa dalam kegiatan ini.

Sebagai informasi bagi kita semua, Key Performance Indicator (KPI) di tingkat provinsi akan mencakup:
1. Presentase Peningkatan Posyandu Strata Mandiri di Jawa Barat;
2. Peningkatan Jumlah Pelaksanaan Rakor Pokjanal Provinsi;
3. Peningkatan Jumlah Kemitraan A-B-C-G-M dalam Pengembangan Posyandu;
4. Peningkatan Jumlah Publikasi Posyandu Provinsi;
5. Peningkatan Jumlah Data Perkembangan Posyandu Provinsi;
6. Cakupan Pengembangan Pengolahan Data Posyandu Provinsi Berbasis Aplikasi.


Mari kita pastikan anak-anak kita terpantau tumbuh kembangnya, dan jangan lupa ke posyandu. Wilayah-wilayah yang terkategorikan zona merah dan kuning dapat menyesuaikan dengan penyelenggaraan Posling (Posyandu Keliling) atau datang secara mandiri ke fasilitas kesehatan di wilayah masing-masing.
Berjangkitnya penyakit Demam Berdarah (DB) menunjukkan peningkatan pada pertengahan musim penghujan, yakni sekitar bulan Januari dan cenderung menurun pada bulan Februari hingga ke penghujung tahun. Sudah sepatutnya kita meningkatkan kewaspadaan dan melakukan antisipasi pencegahan berjangkitnya penyakit yang berbahaya ini. Lebih baik mencegah daripada mengobati, bukan?

Maka dari itu, sahabat-sahabat, yuk kita lakukan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan cara 3M, yaitu:

1. Menguras

Mari membersihkan tempat yang sering dijadikan tempat penampungan air seperti bak mandi, ember air, tempat penampungan air minum, penampung air lemari es dan lain-lain

2. Menutup

Mari menutup rapat tempat-tempat penampungan air seperti drum, kendi, toren air, dan lain sebagainya; dan

3. Memanfaatkan kembali atau mendaur ulang

Mari manfaatkan dengan cara mendaur ulang barang-barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat perkembang-biakan nyamuk penular Demam Berdarah.

Gampang yaa? Sekali lagi, lebih baik kita riweuh beberes seharian membersihkan lingkungan kita daripada seminggu dirawat di rumah sakit karena DB. Setuju kaaannn?

Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Tips Disayang Suami Ala Atalia Kamil
  • Daftar Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat
  • Panci Multifungsi Panineungan
  • Gaya Istri Ridwan Kamil Cantik Serba Merah Saat Suami Dilantik Jadi Gubernur
  • Riwayat Singget Perjoangan Raden Dewi Sartika
HIKMAH
ARTIKEL

Copyright © ataliapraratya.com